FMS, Lengau Seprang -- Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat untuk mengumandangkan ayat suci Al-Qur'an. Kisah ini datang dari Zainudin , seorang tunanetra asal Desa Lengau Seprang Kecamata. Tanjung Morawa, Kabupaten DeliSerdang, namanya sudah tidak asing lagi di panggung Musabaqah Tilawatil Qur'an, MTQ, se-Indonesia.
Meski tidak bisa melihat, hafalan dan lantunan merdunya mampu menembus hati para juri. Catatan prestasinya luar biasa: hampir di setiap MTQ tingkat kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi yang ia ikuti, ia selalu pulang membawa piala dan gelar juara.
ia menghafal Al-Qur'an dengan metode "talaqqi" atau mendengarkan dan mengulang.
"Saya nggak bisa lihat mushaf, jadi semua dihafal lewat suara. Ustaz baca sekali, saya ulang 10-20 kali sampai masuk ke kepala," ceritanya saat ditemui Fokus Media Sumut di rumahnya, [Minggu, 23 Agustus 2026].
Kini di usianya 48 tahun, dan Suaranya yang khas dengan irama bayati dan hijaz membuatnya jadi langganan juara 1 di cabang Tilawah dan Tahfizh Tunanetra.
"Saya paling senang kalau bisa wakili daerah. Rasanya bangga, karena bisa bawa nama baik desa," ujarnya.
Kini di usianya 48 tahun, dan Suaranya yang khas dengan irama bayati dan hijaz membuatnya jadi langganan juara 1 di cabang Tilawah dan Tahfizh Tunanetra.
"Saya paling senang kalau bisa wakili daerah. Rasanya bangga, karena bisa bawa nama baik desa," ujarnya.
Menjadi qari/qariah tunanetra tentu punya tantangan. Mulai dari transportasi ke lokasi lomba, adaptasi tempat, hingga tidak adanya mushaf braille di beberapa daerah.
"Tapi semua itu saya hadapi. Saya percaya Allah kasih ujian pasti kasih jalan keluar. Yang penting niat saya lillahi ta'ala, ingin mengharumkan Al-Qur'an," ucapnya mantap.
Dukungan keluarga jadi kunci. Keluarga selalu setia mengantar ke berbagai daerah di Indonesia. Dari Aceh, Sumut, Jawa, Kalimantan, sampai Sulawesi, semua pernah disambangi demi MTQ.
"Saya ingin buktikan ke teman-teman disabilitas lain, bahwa kita bisa. Jangan minder. Al-Qur'an itu untuk semua orang. Kalau saya bisa, kalian juga pasti bisa," pesannya.
Di tengah hiruk pikuk dunia, lantunan ayat suci dari seorang tunanetra ini mengingatkan kita: bahwa cahaya Al-Qur'an tidak butuh mata untuk melihat. Cukup hati yang ikhlas dan semangat yang tak pernah padam. (HH)
"Tapi semua itu saya hadapi. Saya percaya Allah kasih ujian pasti kasih jalan keluar. Yang penting niat saya lillahi ta'ala, ingin mengharumkan Al-Qur'an," ucapnya mantap.
Dukungan keluarga jadi kunci. Keluarga selalu setia mengantar ke berbagai daerah di Indonesia. Dari Aceh, Sumut, Jawa, Kalimantan, sampai Sulawesi, semua pernah disambangi demi MTQ.
"Saya ingin buktikan ke teman-teman disabilitas lain, bahwa kita bisa. Jangan minder. Al-Qur'an itu untuk semua orang. Kalau saya bisa, kalian juga pasti bisa," pesannya.
Di tengah hiruk pikuk dunia, lantunan ayat suci dari seorang tunanetra ini mengingatkan kita: bahwa cahaya Al-Qur'an tidak butuh mata untuk melihat. Cukup hati yang ikhlas dan semangat yang tak pernah padam. (HH)

إرسال تعليق